Hari masih gelap ketika Maria Magdalena melangkah menuju kubur Yesus. Udara pagi yang dingin mengelilinginya, sementara hatinya berat oleh kesedihan. Masih teringat di benaknya peristiwa mengerikan yang dialami Yesus beberapa hari sebelumnya. Jalan menuju kubur Yesus dirasakannya tak berujung, tetapi rasa cinta dan pengabdian pada Guru yang ia kasihi mendorong langkahnya. Ia ingin menghormati tubuh-Nya meskipun rasa kehilangan itu masih membekas.
Namun, setibanya di sana, Maria dikejutkan oleh sesuatu yang tidak terduga. Batu besar yang menutup pintu kubur telah terguling. Ia berhenti sejenak, napasnya tertahan oleh ketakutan dan kebingungan. Perlahan, ia mendekati kubur itu, dan alangkah terkejutnya ia saat melihat bahwa tubuh Yesus tidak ada di sana. Pikirannya dipenuhi kecemasan, “Apakah mereka telah mengambil tubuh Guru-ku? Ke mana mereka membawanya?”
Dengan air mata mengalir, Maria berlari kembali untuk mencari Petrus dan Yohanes. Tak lama ia dapat menemukan mereka di rumah persembunyian, kemudian berkata, “Petrus, Yohanes, mereka telah mengambil tubuh Guru dari kubur, dan aku tidak tahu di mana mereka meletakkan-Nya.”
Terkejut mendengar perkataan itu, Petrus dan Yohanes pun segera berlari ke kubur. Yohanes lebih dahulu sampai, tetapi ia hanya melihat dari luar dan tidak masuk. Petrus, dengan nafas terengah-engah, tiba beberapa saat kemudian dan langsung masuk ke dalam kubur. Di sana, ia melihat kain kafan tergeletak, dan kain yang menutupi kepala Yesus terlipat rapi di tempat yang berbeda. Tetapi tidak ada tubuh Yesus. Itu bukan tanda pencurian, pikirnya. Namun sesuatu yang besar telah terjadi.
Yohanes akhirnya masuk, dan ia juga melihat apa yang dilihat Petrus. Masih dipenuhi keheranan, Yohanes dan Petrus mulai percaya. Namun, mereka berdua belum sepenuhnya memahami Kitab Suci yang mengatakan bahwa Yesus harus bangkit dari antara orang mati. Meski begitu, ada secercah harapan yang tumbuh di hati mereka.
Setelah itu, masih dengan keheranan, Petrus dan Yohanes kembali ke rumah. Maria tetap tinggal di depan kubur, berdiri sendirian. Ia menangis, matanya terus menatap kubur yang kosong, mencari jawaban di tengah kebingungan.
Dengan air mata yang mengalir, ia melihat kembali ke dalam kubur dan mendapati malaikat berpakaian putih duduk di tempat tubuh Yesus pernah terbaring. Malaikat-malaikat itu bertanya, “Mengapa engkau menangis, hai wanita?”
Maria menjawab, “Mereka telah mengambil Tuhanku, dan aku tidak tahu di mana mereka meletakkan-Nya.”
Saat ia berkata demikian, ia menyadari ada seseorang berdiri di belakangnya. Maria menoleh dan mengira pria itu adalah penjaga taman. Kemudian dengan penuh harap, ia berkata, “Tuan, jika engkau yang mengambil Dia, katakanlah di mana engkau meletakkan-Nya, supaya aku dapat membalurinya dengan minyak wangi yang ku bawa ini.”
Namun, ketika pria itu memanggil namanya, “Maria,” seketika itu juga Maria mengenali suara-Nya. “Rabuni!” serunya penuh sukacita. Seketika, sukacita meluap memenuhi hatinya. Yesus hidup! Ia berdiri di sana, di hadapannya—bukti nyata kebangkitan yang selama ini ia tidak pahami sepenuhnya.
Maria segera maju hendak memeluk Gurunya. Namun Yesus mencegahnya, “Jangan sentuh Aku Maria, karena Aku belum naik kepada Bapa. Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakan kepada mereka bahwa Aku akan naik kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”
Dengan hati penuh sukacita, Maria menganggukkan kepala. Tak lama Yesus menghilang dari pandangannya dan Maria segera berlari kembali ke rumah tempat para murid berkumpul untuk memberitakan kabar luar biasa ini. Setibanya di sana Maria berkata dengan penuh semangat di hadapan para murid, “Aku telah melihat Tuhan!”.
Pagi itu, bagi Maria Magdalena dan para murid, dunia berubah. Kebangkitan Yesus membawa terang di tengah kegelapan, memberikan mereka harapan baru yang tidak akan pudar.

